Rabu, 19 September 2012

Rating Pemain (Chelsea) vs Juventus


Baik Chelsea maupun Juventus bermain sangat baik.  Setiap tim memiliki pemain yang bersinar pada malam tersebut.  Sebut saja Oscar yang dua kali membobol gawang Juventus.  Sedangkan di Juventus, secara umum penampilan setiap pemain lebih terlihat merata, terutama di lini tengah.  Vidal, Marchisio, Pirlo, dan Asamoah menunjukkan performa yang mengesankan.  Namun, walau agak berbeda tipis dengan lainnya, tampaknya Marchisio layak menjadi man of the match.  Berikut adalah rating pemain versi jasaediting.blogspot.com:

Giunlugi Buffon                                6.5
Kebobolan dua gol, salah satunya melalui cara yang berkelas.  Namun demikian, beberapa kali mampu mementahkan ancaman dari Pemain Chelsea.  Salah satunya adalah penyelamatan gemilang terhadap tendangan jarak jauh Ivanovic.

Andrea Barzagli                 6.5
Kokoh dan solid.   Membuat Torres dan Edin Hazard tidak berdaya.

Leonardo Bonucci            6
Diantara dua bek lainnya, Bonucci sebenarnya mampu memperlihatkan permainan yang seimbang.  Hanya saja, kesalahannya dalam mengantisipasi tendangan Oscar membuat Juve kebobolan satu gol.

Giorgio Chiellini                 7
Penampilannya melawan Chelsea cukup menjanjikan.  Apalagi didukung oleh Asamoah, menjadikan sisi kiri Juventus cukup aman.

Stephan Litchsteiner      6.5
Menyisir sisi kiri Chelsea, dan bertarung hebat dengan Edin Hazard serta Ramirez.  Beberapa kali mendapatkan kesempatan mengumpan dengan baik, tapi kurang sempurna.

Arturo Vidal                        7
Terpincang-pincang, tapi menjadi pahlawan dengan gol pertamanya.  Bersama Marchisio sangat dominan di lini tengah Juventus.

Andrea Pirlo                       6.5
Tidak bisa memegang bola terlalu lama, karena perannya telah dimengerti betul oleh Di Matteo.  Namun demikian, Pirlo masih mampu mengalirkan bola dengan lancar.

Claudio Marchisio            7*
Bergerak cukup efektifdan jarang kehilangan bola.  Umpan matangnya kepada Quagliarela menjadikan Juventus nyaris membawa pulang 3 poin

Kwadwo Asamoah          6.5
Bahu membahu dengan Chiellini menjaga sektor kiri Juventus.  Hanya saja, dalam penyerangan masih terbentur tembok kokoh Chelsea.  Beberapa kali menunjukkan skill menawannya.

Mirko Vucinic                     6
Sering kehilangan bola, dan seharusnya mencetak gol pada babak I.  Tendangannya melenceng, padahal telah berhadapan langsung dengan Peter Cech.

Sebastian Giovinco          5.5
Cukup mobile, tapi gagal memberikan ancaman yang berarti.  Sering kehilangan bola.

Cadangan
Fabio Quaglirela                6.5
Tidak salah Carrera memasukkannya.  Pergerakannya cukup efektif.  Nyaris mencetak gol kedua jika saja tidak membentur mistar gawang.

Mauricio Isla                       6
Debut dengan menggantikan Litchsteiner.  Sempat melepaskan satu kali tendangan yang mengarah tepat kepelukan Peter Cech

Alessandro Matri             6
Menyegarkan lini depan Juventus, tapi jarang mendapat bola yang membahayakan.
                               
Massimo Carrera              6.5
Pada babak I, Juve terlalu memberikan ruang kepada Chelsea.  Namun babak II, keputusannya sangat tepat dengan memasukkan Quagliarela dan Isla.  Tidak gugup pada pertandingan pertamanya di Liga Champion

Catatan:
Rating berkisar antara 1(sangat buruk) hingga 10 (sangat baik).  Diberikan berdasarkan pengamatan pribadi penulis dan tidak mengikat. @hendryfri

Selasa, 11 September 2012

Rating Pemain (Udinese) vs Juventus


Hampir semua analis menganugerahkan man of the match kepada Sebastian Giovinco dalam pertandingan melawan Udinese.  Ya, The Atomic Ant berhasil menceploskan dua gol, ditambah kontribusinya yang mengasilkan pinalti.  Berikut adalah rating pemain Juventus saat melawan Udinese.

Giunlugi Buffon                  6.5
Beberapa kali mendapatkan ancaman berbahaya, namun berhasil digagalkan.  Gol Udinese yang tercipta, bukan murni kesalahannya.

Andrea Barzagli                 6.5
Tampil solid dan tanpa kompromi.  Sayangnya, pada menit-menit terakhir gagal mengantisipasi terjadinya gol oleh Udinese

Leonardo Bonucci            6
Sebenarnya tampil lebih baik dibanding saat melawan Parma.  Namun, kegagalannya menjaga Luis Muriel telah menyebabkan terjadinya gol oleh Lazzari

Giorgio Chiellini                 6.5
Tampil pertama kali, Chiellini begitu garang.  Hanya saja tidak bisa tampil penuh 90 menit.  Selama pengawalannya, gawang Juventus cukup aman.  Gawang Juve kebobolan setelah Chiellini digantikan

Stephan Litchsteiner          6.5
Membuat sayap kanan Juventus begitu dominan.  Kokoh dalam bertahan, dan kuat dalam menyerang

Arturo Vidal                        7
Tidak hanya sukses mengeksekusi pinalti.  Tapi juga berhasil merusak keseimbangan lini tengah Udinese

Andrea Pirlo                       7
Sang pengatur permainan dan berkontribusi penting pada dua gol Juventus.  Cukup matang dan cemerlang

Claudio Marchisio              7
Kombinasi tiga gelandang tengah Juventus begitu mantab.  Marchisio pun tidak kalah berkontribusi terhadap gol pertama Giovinco.  Tendangan kerasnya tidak bisa dihalau kiper Udinese. Hanya saja, beberapa kali tendangan lainnya masih di luar sasaran

Kwadwo Asamoah           7
Pemain yang membuat lini tengah Juventus lebih lengkap.  Sangat lincah sekaligus kuat

Mirko Vucinic                  6.5
Seharusnya mencetak lebih dari satu gol.  Sayang, masih kurang beruntung.  Perlu lebih tajam di depan gawang

Sebastian Giovinco           8*
Tubuh mungilnya menjadi kekuatan tersendiri.  Susah dijaga, dan pergerakannya begitu licin.  Patut menjadi man of the match

Cadangan
Luca Marrone                    6
Tidak terlalu tampak di lapangan.  Karena pada saat masuk, Juventus sedang mengendalikan permainan
  
Fabio Quaglirela                5
Masuk pada pertengahan babak kedua, seolah ingin menunjukkan kapasitasnya.  Hanya saja, kesannya menjadi terlihat egois.  Namun, terlihat pergerakan tik tak nya dengan Matri bisa menjadi kekuatan di lain waktu

Alessandro Matri              5
Matri memasuki lapangan dengan beban yang agak berat.  Dituntut untuk membuktikan diri karena posisinya mulai terancam.  Akibatnya dia tampil dengan emosi yang membuatnya diganjar kartu merah.

Massimo Carrera              7
Kembali terbukti berhasil membangkitkan permainan pada babak II.  

Catatan:
Rating berkisar antara 1(sangat buruk) hingga 10 (sangat baik).  Diberikan berdasarkan pengamatan pribadi penulis dan tidak mengikat. @hendryfri

Udinese Tak Berkutik Hadapi Juventus


Memasuki minggu kedua, Juventus mendapat tugas berat bertamu ke kandang Udinese. Walau ditinggal beberapa pilarnya yang hengkang pada bursa transfer lalu, Udinese tidaklah bisa dipandang sebelah mata.  Tim ini selalu menghasilkan pemain berbakat yang menjadi incaran tim besar.  Dan jangan lupa, skuad Udinese masih diperkuat oleh Antonio Di Natale, Pablo Armero, dan juga pemain muda berbahaya Luis Muriel.

Babak pertama dimulai dengan duel saling serang antara kedua tim.  Lini depan Nyonya Tua yang dihuni Sebastian Giovinco dan Mirko Vucinic sedikit lebih hidup dibanding saat melawan Parma.  Bola lebih mengalir dari lini tengah.  Hasilnya, Kiper Udinese melanggar keras Giovinco yang berhasil menciptakan gerakan berbahaya.  Brkic tak kuasa menjangkau bola sehingga harus menabrak pemain mungil tersebut.  Akibatnya, kartu merah dan tendangan pinalti menjadi hukuman buat Udinese.
Arturo Vidal yang menjadi eksekutor tidak mengulangi kesalahan.  Gol, 1-0 untuk Juventus.  Bermain melawan 10 orang dan unggul satu gol membuat permainan Juventus lebih santai.  Bianconero memainkan bola dari kaki ke kaki untuk menjaga ritme permainan.

Memasuki babak kedua. Juventus langsung mengendalikan permainan.  Hasilnya, Mirko Vucinic berhasil menggandakan keunggulan menjadi 2-0.  Tidak cukup disitu, Juve terus memborbardir pertahanan Udinese.  Jikalau Vucinic lebih tenang, tampaknya dia bisa hatrick dalam pertandingan tersebut.

Sebastian Giovinco semakin menunjukkan dominasinya kali ini.  Sebuah bola rebound hasil tendangan keras Claudio Marchisio berhasil dikonversi menjadi gol.  Setelah itu, kesalahan kiper pengganti Padelli membuat Andrea Pirlo dengan leluasa mengumpan Giovinco yang berdiri kosong.  Gol, Juve memimpin 4-0.
Seolah ingin memberikan kesempatan pada Alessandro Matri dan Fabio Quaglirela, Massimo Carrera langsung memasukkan keduanya menggantikan Giovinco dan Vucinic.  Terlihat Matri maupun Quaglirela berusaha keras menunjukkan kemampuannya. Tapi, alih-alih menambah gol.  Juventus malah kebobolan oleh pergerakan Luis Muriel dan Andrea Lazzari.  Akhirnya pertandingan ditutup dengan skor 1-4 untuk kemenangan Juventus.  @hendryfri

Selasa, 28 Agustus 2012

Rating Pemain Juventus (vs Parma)


Pertandingan perdana tidaklah selalu mudah untuk dihadapi, apalagi bagi punggawa baru.  Dalam partai pertamanya, di kubu Juventus  ada dua pemain baru yang menjadi starter, yakni Sebastian Giovinco dan Kwadwo Asamoah.  Kredit khusus diberikan kepada Kwadwo Asamoah.  Walau tidak mencetak gol, namun keberadaannya benar-benar sangat berarti bagi Juventus dalam pertandingan tersebut.  Namun demikian, man of the match penulis anugerahkan kepada sang Kapten, Claudio Marchisio, yang telah berhasil memimpin rekan-rekannya meraih kemenangan.

Berikut adalah rating pemain dan pelatih dalam pertandingan melawan Parma:
Storari                                  7
Cukup sukses menggantikan Buffon.  Terbukti dengan keberhasilannya menjaga keperawanan gawang Juventus.  Beberapa kali melakukan penyelamatan gemilang.
Leonardo Bonucci            6
Sebenarnya sangat kuat di belakang.  Tetapi, salah satu kesalahannya nyaris menguntungkan Parma.  Tercatat, Bonucci juga melakukan kesalahan yang hampir sama dalam dua pertandingan sebelumnya.  Bahkan, berbuah gol ketika melawan Napoli.
Luca Marrone                    6.5
Tidak sedikitpun terlihat gentar bermain berdampingan dengan Bonucci dan Barzagli.  Sangat tenang dalam memotong pergerakan-pergerakan berbahaya pemain lawan.   Beberapa kali melakukan penghadangan penting.
Andrea Barzagli                                6.5
Seperti biasanya, cukup kokoh di belakang.  Jarang sekali terlewati oleh pemain lawan.
Stephen Litchsteiner     7
Pencetak gol pertama Juventus musim ini.  Tampil sangat mengesankan, baik dalam memberi umpan ataupun menerobos pertahanan lawan.  Menjadi solusi di tengah kebuntuan. 
Arturo Vidal                       6.5
Walau gagal mencetak gol melalui pinalti.  Vidal tetaplah Vidal yang penting bagi lini tengah Juventus.  Berhasil memutus bola lini tengah Parma, dan cukup membantu serangan.
Andrea Pirlo                      7
Akhirnya tidak perlu menunggu waktu lama gol Pirlo musim ini.  Tendangan bebasnya, walau menjadi perdebatan, menjadi bukti bahwa eksekusi bola matinya masih maut.  Selain itu, dia mengontrol permainan Juventus dengan baik.
Claudio Marchisio           7.5*
Sang Kapten, setelah Giunlugi Buffon dan Giorgio Chiellini berhalangan tampil.  Penampilannya cukup "meledak" dan berhasil menginspirasi rekan-rekannya melalui gerakan spektakulernya.  Sangat layak menjadi man of the match
Kwadwo Asamoah          7
Kombinasinya dengan Litchsteiner cukup mengagumkan.  Dalam pertandingan tersebut, Asamoah menjadi kekuatan baru bagi Juventus.  Selain berperan penting dalam penyerangan, juga kokoh dalam bertahan.
Mirko Vucinic                    5.5
Beberapa kali mendapatkan peluang emas, bahkan salah satunya sudah berhadapan dengan kiper.  Sayang tendangannya melambung.  Jarang sekali tendangannya yang mengenai sasaran.
Sebastian Giovinco         5.5
Pergerakan lincahnya berhasil diredam oleh pemain Parma.  Selain itu, tampak kurang padu dengan teman duetnya.
Pergantian         
Alessandro Matri             5.5
Tidak memberikan dampak yang berarti
Simone Padoin                 6
Tidak bermain sebaik Litchsteiner
De Ceglie                            5.5
Tidak terlalu tampak dalam pertandingan tersebut
Pelatih 
Massimo Carrera             6.5
Sukses menggantikan Conte di pertandingan pertama.  Berhasil mengatasi kebuntuan anak asuhnya setelah jeda babak pertama. 

Catatan:
Rating berkisar antara 1(sangat buruk) hingga 10 (sangat baik).  Diberikan berdasarkan pengamatan pribadi penulis dan tidak mengikat. @hendryfri

Kemenangan Penting di Pertandingan Perdana


Memasuki musim 2012/2013, Juventus kembali dihadapkan pada lawan perdana yang sama dengan musim sebelumnya, Parma.  Pertandingan tersebut tentu sangat spesial bagi Sebastian Giovinco, karena jika 2011/2012 dia mengenakan kostum biru kuning, kini dia berseragam hitam putih.

Menggantikan Antonio Conte, Massimo Carrera mengambil kendali melalui pinggir lapangan.  Dia menurunkan formasi 3-5-2.  Cederanya Giunlugi Buffon, memberi kesempatan bagi Marco Storari untuk menjaga gawang Juventus, dengan dikawal oleh Leonardo Bonucci, Luca Marrone, dan Andrea Barzagli.  Di tengah, Carrera tetap mengandalkan Arturo Vidal, Andrea Pirlo, dan Claudio Marchisio.  Diperkuat oleh Stephen Litchsteiner di kanan dan Kwadwo Asamoah di kiri.  Sebagai penyerang, Carrera mempercayakan duet Mirko Vucinic dan Sebastian Giovinco.

Parma tampak bergitu hafal dengan permainan Juventus.  Pada babak pertama, walau penguasaan bola dipegang oleh Juventus, tapi Parma berhasil mengantisipasi permainan Juventus.  Begitu bola dikuasai bianconeri, hampir semua pemain Parma merapat ke garis pertahanan untuk menutup ruang.  Dan ketika Parma berhasil merebut bola, dengan cepat Bibiany dkk. memberikan ancaman bagi lini belakang tim Zebra.  Untungnya Marco Storari berhasil menggantikan peran Buffon dengan baik.  Begitupun lini belakang Juventus.  Penampilan Luca Marrone malam itu, menjadi jawaban atas latar belakang eksperimen Conte menempatkannya sebagai bek tengah.

Salah satu kesempatan emas yang disia-siakan Juventus pada babak pertama, adalah keberhasilan Antonio Mirante membaca tendangan pinalti Arturo Vidal.  Setelah itu, ancaman pemain Juventus belum terlalu membahayakan kiper yang pernah merumput di Juventus tersebut.

Babak kedua
Memasuki babak kedua, Carrera tampaknya masih percaya dengan susunan pemain babak pertama.  Tidak ada satupun pergantian yang dilakukan.  Bedanya, kali ini Juventus bermain lebih melebar.  Berkali-kali Litchsteiner dan Vidal di kanan dan Asamoah di kiri menyisir sayap Parma.  Hasilnya, suatu waktu Asamoah berhasil menusuk sisi kiri pertahanan Parma dan melepaskan umpan ke dalam kotak pinalti.  Ketika semua pemain fokus menjaga Vucinic dan Giovinco, muncullah Litchsteiner yang secara tiba-tiba menerobos hingga ke depan gawang dan "Goool".  Sebuah kombinasi dari dua orang pemain sayap yang cukup sukses.
Juventus semakin mengendalikan permainan.  Pelanggaran tepat di mulut kotak pinalti Parma tidak disia-siakan oleh Andrea Pirlo.  Melalui tendangan menyusur tanahnya, walau berhasil ditangkap oleh Mirante, namun hakim gawang menilai bola telah melewati garis, 2-0 untuk Juventus.

Roberto Donadoni tidak tinggal diam.  Dia memerintahkan pasukannya untuk keluar menyerang dengan berbagai cara.  Lagi-lagi, Marco Storari berhasil mementahkan beberapa tendangan pemain Parma. Catatan khusus kembali perlu diberikan kepada Leonardo Bonucci.  Seperti dua pertandingan sebelumnya, kali ini dia juga nyaris membuat kesalahan fatal, ketika bola yang seharusnya diamankan justru direbut oleh sayap Parma.  Akibatnya, sebuah tendangan keras nyaris berbuah gol.  Untungnya, Storari masih kokoh.  Di luar kesalahan tersebut, tiga defender Juventus bermain cukup lugas.  Tidak sedikitpun terlihat rasa canggung pada Marrone dalam menggantikan posisi seniornya, Giorgio Chiellini.

Mengamati perkembangan yang ada, Carrera tampaknya berusaha mengembalikan kendali Juventus.  Litchsteiner yang mulai kelelahan digantikan oleh Simone Padoin, sementara Vucinic digantikan Alessandro Matri.  Sementara itu, Parma mulai menemukan celah pertahanan Juventus.  Mereka mulai memborbardir melalui sayap kanan dan kiri pertahanan Juventus untuk membuka ruang di tengah serta membongkar kerapatan trio Bonucci-Marrone-Barzagli.

Carrera bukannya tidak sadar dengan strategi Donadoni.  Ketika Giovinco cedera, dia segera mengambil kesempatan pergantian terakhir dengan memasukkan De Ceglie, yang notabene-nya adalah bek kiri.  Dengan demikian, Parma berhasil diredam hingga menit akhir, 2-0 untuk kemenangan Juventus. @hendryfri

Minggu, 12 Agustus 2012

Ujian di Beijing


Pertandingan Supercoppa Italia antara Juventus vs Napoli ,12 Agustus 2012, menjadi hiburan tersendiri bagi penggemar sepakbola Italia.  Menariknya, walau Juventini menguasai Stadion Nasional Beijing, ternyata tidak membuat Napoli berkecil hati.  Mereka malah memberikan perlawanan yang sengit dan merepotkan Juventus.  Poin lebih patut disematkan pada Striker Napoli, Edison Cavani, yang seolah tidak kenal lelah dalam menyerang dan membantu pertahanan.
Tanpa didampingi oleh allenatore Antonio Conte, dalam pertandingan tersebut Juventus cukup diimbangi oleh Napoli.  Bahkan kelalaian lini belakang Juventus berbuah dua gol bagi Napoli.  Belum lagi tiga peluang lainnya yang diakibatkan kesalahan antisipasi Bonucci, yang untungnya dapat digagalkan oleh Giunlugi Buffon.

Berikut adalah evaluasi tiga lini Juventus:

Lini Belakang
Trio lini belakang Juventus tampak tidak padu dan tidak menunjukkan kelasnya.  Beberapa kali Bonucci berhasil merebut bola ketika berhadapan satu melawan satu dengan Cavani atau Pandev.  Namun, tidak sedikit juga kesalahannya yang bahkan berbuah dua gol dan dua peluang emas lainnya bagi Napoli.  Dua gol Napoli adalah kesalahannya.  Sebagai bek di posisi sentral, Bonucci seharusnya berada di posnya dan menutup ruang gerak Cavani pada gol pertama.  Sedangkan pada gol kedua, andai lebih tenang, Bonucci tentu sudah bisa membuang bola jauh dari jangkauan Pandev.

Lini tengah
Kali ini, pelatih sementara Juventus Massiom Carrera menempatkan lima orang di posisi gelandang, pola yang sering diterapkan oleh Antonio Conte.  Trio MVP (Marchisio, Vidal, dan Pirlo) plus Litchsteiner di kanan dan Kwadow Asamoah di kiri bermain agak tertekan.  Mengingat hampir sepanjang pertandingan lini tengah Napoli bertahan di 3/4 terakhir lapangan.  Selain itu, lini tengah Juve juga gagal memberikan umpan brilian kepada duet Matri dan Giovinco.  Tidak seperti biasanya, ketika lini belakang lawan tertutup rapat, lini tengah Juve kali ini tidak bisa memberikan umpan terobosan baik melalui teknik cungkil ataupu memanfaatkan ruang kosong.  Tidak hanya itu, tendangan jarak jauh untuk memberikan ujian kepada kiper lawan juga tidak terlalu membahayakan.
Namun demikian, kehadiran Kwadwo Asamoah tampaknya akan menjadi kekuatan baru bagi Juventus.  Dia kuat bertempur dan cukup lincah.  Satu gol indahnya memberikan peringatan yang cukup keras bagi calon lawan-lawan Juventus selanjutnya.

Lini Depan
Alessandro Matri yang diturunkan berduet dengan sebastian Giovinco benar-benar terkunci tadi malam.  Untunglah, walau belum optimal dan sering terjatuh, Giovinco masih cukup berkontribusi.  Kelincahannya telah membuat Zuniga di kartu merah.  Kehadiran Vucinic sedikit menghidupkan ketajaman Juventus.
Ke depannya, jika tidak mencari penyerang baru, Juve perlu meningkatkan kerja sama dan kesepahaman untuk menopang lini depan.  Karena, praktis Matri sebagai ujung tombak jarang mendapatkan bola berbahaya.  Tentu Juventini merindukan penyerang sekelas Trezeguet, Inzaghi, Vieri, dan Alessandro Del Piero.  @hendryfri

Selasa, 19 Juni 2012

Juventus, Mengevaluasi Musim 2011-2012



Di tengah hingar bingar kesuksesannya, Juventus dihadapkan tantangan baru pada musim mendatang.  Coach Antonio Conte dituntut untuk mempersiapkan pasukannya lebih matang dengan amunisi dan taktik lebih bervariasi, jika kembali ingin meraih sukses lebih.  Apalagi, musim depan, Juventus akan berkompetisi di Liga Champion.  Rekor tidak terkalahkan di serie A tak boleh membuat para punggawa Bianconeri terlena.  Menjelang akhir musim banyak tim yang mulai memahami cara untuk mengantisipasi dan meredam kehebatan tim asal kota Turin ini.  Dan puncaknya adalah keberhasilan Napoli memecahkan rekor tak terkalahkan di ajang final Coppa Italia.  Oleh sebab itu, Antonio Conte dituntut mencari alternatif taktik ketika menghadapi kebuntuan. 

Berikut adalah evaluasi tim selama mengarungi kompetisi serie A dan Coppa Italia 2011-2012.

Kekuatan
- Lini tengah yang kreatif dan solid.  Kedatangan Andrea Pirlo ternyata membawa pengaruh berarti.  Apalagi kemudian Cloudio Marchisio dan Arturo Vidal mampu mengimbangi dengan penampilan impresifnya.   Selain mengendalikan, lini tengah Juventus juga sering menjadi alternatif pencetak gol penentu di tengah kebuntuan para penyerang.  Belum lagi dukungan dua sayap yang juga signifikan.  Walau tidak terlalu istimewa, namun kehadiran Simone Pepe, Martin Cacares, dan Stephen Litchsteiner -di kanan, serta Emanuelle Giaccherini, Paolo De Ceglie, dan Marcello Estigarribia -dikiri,  cukup membantu.  Setiap pemain memiliki kelebihan tersendiri.  Misalnya Pepe dengan gocekan dan keberuntungannya; Cacares dan De Ceglie dengan keakuratan umpannya; serta Litchsteiner, Giaccherini, dan Estigarribia yang memiliki kecepatan. 
- Lini belakang yang tangguh.  Trio Giorgio Chiellini, Andrea Barzagli, dan Leonardo Bonucci memberi ketenangan tersendiri bagi Kiper.  Permainannya tidak mengenal kompromi dan cukup bersih.  Bahkan, Barzagli adalah salah satu pemain yang paling sering bermain musim lalu, selain Andrea Pirlo.

Kelemahan
- Andrea Pirlo merupakan kekuatan, sekaligus bisa menjadi kelemahan Juventus.  Selama kompetisi 2011-2012, tercatat hanya satu kali Juventus tanpa kehadirannya.  Itupun, dikarenakan akumulasi kartu.
- Lini depan yang angin-anginan.  Tercermin dari minimnya kontribusi gol sektor ini.  Selain Mirko Vucinic, terlihat Juventus tidak memiliki penyerang utama.  Antonio Conte masih menimbang-nimbang antara Alessandro Matri, Fabio Quaglirela dan juga Marko Boriello.
- Beberapa bakat belum termanfaatkan dengan baik.  Juventus memiliki bakat-bakat yang belum dioptimalkan, sebut saja Milos Krasic, Eljario Elia, hingga Luca Marrone.  Antonio Conte tampaknya lebih memilih bermain aman dengan hampir selalu memilih pemain dengan kemampuan teruji. Beberapa kali kesempatan memang diberikan, tapi tak cukup waktu bagi mereka untuk membuktikan.

Dengan menimbang kekuatan dan kelemahan tersebut, sudah selayaknya Antonio Conte dan Giuseppe Marotta (Direktur Umum) mempertimbangkan kebutuhan pemain guna menyambut edisi mendatang.  Strategi Marcato yang tepat akan sangat menentukan prestasi musim depan. @hendryfri